Oleh: juliocessar | September 25, 2009

KEARIFAN LAUT MARIADEI YANG TERJAGA

Sejak dahulu masyarakat mariadei pada Kabupaten Kepulauan Yapen menangkap ikan secara tradisional, berbagai cara dilakukan dengan cara tradisional yang ramah lingkungan serta kearifan-kearifan /nilai budaya yang mana merupakan hal yang permanent didalam mengelolah potensi laut yang ada. Akhir-akhir ini kita banyak mendengar bahkan mungkin juga kita menyaksikan / ikuti berita baik media cetak maupun elektronik bahwa bangsa indonesia merupakan basis dari nelayan asing dalam penangkapa ikan secara illegal usaha-usaha ini sangat tidak bersahabat bahkan yang ada adalah hancurnya habitat dan komunitas baik terumbuh karang bahkan juga ekosistim laut secara simultan , akan tetapi juga sering dilakukan oleh warga / masyarakat setempat dengan mengadopsi teknologi menangkap ikan yang tidak benar dan tepat dengan cara bom dan potassium.

Cara yang paling lazim digunakan oleh hampir seluruh masyarakat Papua yang tinggal dipesisir dan kepulauan adalah memancing dari atas perahu dengan menggunakan tali pancing atau nilon,kail, dan timah sebagai pemberat untuk memancing ikan didasar laut. Khusus ikan tuna atau cakalang dan tenggiri, digunakan umpan yang dibuat dari tali rafiah yang dihaluskan dan diikat pada kail. Masyarakat Mariadei juga membangun keramba keramba ini berfungsi sebagai jebakan ikan, ikan masuk ke dalam pada saat air pasang namun tidak dapat keluar saat surut. Ikan-ikan dalam keramba diambil oleh para nelayan menggunakan serok atau tangguk yang dibuat dari jaring /jala yang telah dijahit. Cara lain menangkap ikan secara tradisional dikenal dengan nama molo nelayan harus menyelam dan kemudian menembak ikan menggunakan senapan yang terbuat dari kayu. Peluru senapan ini adalah kawat yang dapat dilontarkan dari senapan. Nelayan yang menggunakan cara ini disebut tukan molo ikan. Dalam berburu ikan didalam air mereka menggunakan kaca molo atau kaca selam untuk melindungi mata.

Ada cara unik lain dalam menangkap ikan yang sering kita jumpai di masyarakat mariadei adalah memancing dengan kail tanpa umpan yang disebut bacigi. Bacigi hanya dilakukan untuk menangkap ikan yang hidupnya dalam koloni yang besar dan berenang dekat dengan permukaan laut. Bagi masyarakat mariadei mencari bia pada saat air surut / meti besar adalah suatu kepuasan tersendiri kita akan jumpai situasi yang berbeda dimana terlihat kaum muda, anak-anak, bahkan orang tua saling menyapa, bersenda gurau sambil mencari bia situasi ini telah berlangsung sekian lama. Selain cara menangkap ikan masyarakat Papua juga mengenal budaya sasi. Sasi adalah aturan dan larangan mengambil hasil bumi bagi seluruh penduduk kampung selama jangka waktu tertentu yang telah disepakati. Setelah batas waktu yang ditentukan selesai, dilakukan musyawarah bersama untuk memutuskan apakah hasil laut yang sebelumnya dilarang boleh dipanen kembali. Sasi biasanya diberlakukan bagi hasil laut seperti jenis ikan, siput, kerang / bia, lobster dan hasil laut lainnya yang bernilai ekonomi tinggi hal ini dimaksudkan agar populasi jenis ikan, kerang, udang dan teripang dapat berkembang baik dengan jumlah yang besar sehingga tetap terjaga dan tidak punah. Apakah kearifan laut mariadei ini tetap terjaga ditengah ancaman global warming (Pemanasan global) ! jawabnya hal ini menjadi tanggung jawab kita semua kontributor terbesar pemanasan global saat ini adalah Karnon Doiksida (CO2), Matana (CH4) dari Pupuk, dan gas-gas yang digunakan untuk kulkas dan pendingin ruangan (CFC). Mungkin pertanyaan yang terlintas pertama kali dalam pikiran anda adalah : Bagaimana Mungkin ??? Bagaimana mungkin pemanasan global bisa mengancam kehidupan di planet bumi ? serta apa hubungannya dengan Taman laut kita, pada prinsipnya gas-gas tersebut akan terserap sebagaian ke laut dan fungsi ini sedikitnya telah mengurangi emisi gas-gas tersebut diudara namun ironisnya volume ini tetap bertambah mengakibatkan hal ini juga tidak dapat lagi difilter oleh potensi laut. Ekosistem didasar laut yang dibangun, terutama oleh biota laut penghasil kapur yakni kalsium karbonat, khususnya jenis karang batu dan alga berkapur bersama-sama dengan biota yang hidup didasar laut seperti moluska, porifera, dan lain sebagainya. Proses pembentukan Ekosistem ini berlangsung jutaan tahun yang lalu yang dipengaruhi oleh faktor pergerakan lempeng bumi, ledakan meteor, periode zaman es, dan kondisi lingkungan pada ribuan tahun lalu yang turut mempengaruhi. Ekosistem ini akan punah dan tidak akan ada lagi kehidupan ketika Global Warming ini sudah mencapai pada titik maksimum agar laut kita tetap terjaga maka kearifan lokal harus tetap kita lestarikan dengan tidak bersikap egoisme dan memberikan sikap penghargaan yang tinggi bagi lingkungan disekitar kita.

Kearifan Hari ini Menentukan Hari Depan,


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.